Kwarran Karangpucung | Situs Resmi Kwarran Karangpucung Cilacap Jawa Tengah: PP SK Kwarnas
News Update
Loading...
Showing posts with label PP SK Kwarnas. Show all posts
Showing posts with label PP SK Kwarnas. Show all posts

Monday, November 15, 2021

Kumpulan SK dan PP Kwarnas terbaru

Kumpulan SK dan PP Kwarnas terbaru

Unduh Kumpulan SK dan PP Kwarnas


klik menu Download untuk mengunduh kumpulan SK dan PP Kwarnas

File yang akan didapatkan antara lain :

PP Gerakan Pramuka

Nomor SK

Pakaian Seragam Anggota GP

174 tahun 2012

Satuan Komunitas Pramuka

002 tahun 2012

Gugus Darma Pramuka

001 tahun 2012

PP & Pengembangan Anggota Dewasa GP

202 tahun 2011

Sisdiklat Gerakan Pramuka

201 tahun 2011

Sistem Administrasi Kwartir

162.A Tahun 2011

Saka Bhayangkara

159 tahun 2011

Saka Bahari

158 tahun 2011

Saka Bakti Husada

154 tahun 2011

Saka Dirgantara

151 tahun 2011

Org. & Tata Kerja Pusdiklatcab

179 tahun 2010

Saka Wira Kartika

205 tahun 2009

Tanda Penghargaan

184.A tahun 2008

Satuan Karya Pramuka

170.A tahun 2008

Gugusdepan GP

231 tahun 2007

Pramuka Peduli

230 tahun 2007

Hubungan  Masyarakat GP

229 tahun 2007

Kebijakan Manajemen Resiko dalam GP

227 tahun 2007

Pakaian Seragam Anggota GP

226 tahun 2007

Majelis Pembimbing GP

225 tahun 2007

Org. dan Tata Kerja

Kwarran GP

224 tahun 2007

Org. dan Tata Kerja

Kwarcab GP

223 tahun 2007

Org. dan Tata Kerja

Kwarda GP

222 Tahun 2007

Pokok-Pokok Organisasi GP

220 tahun 2007

PP Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pandega

214 tahun 2007

Syarat dan Gambar TKK Kelompok Kebhayangkaraan Saka Bhayangkara

146.A tahun 2006

Penyesuaian PP Pertemuan Pramuka

193 tahun 1998

Kegiatan Halang Rintang GP

006 tahun 1981

Pembinaan Personel Gerakan Pramuka

195 tahun 1979

Kursus Pelatih Pembina Pramuka

192 tahun 1979

Pendidikan Agama dalam GP

182 tahun 1979

Pendidikan dan Kegiatan Menabung GP

186 tahun 1979

Upacara di dalam GP

178 tahun 1979

Kursus Orientasi Gerakan Pramuka

017/KN/78

Tanda Kecakapan Khusus

134/KN/76

Pertemuan pramuka

130/KN/1976



Wednesday, January 24, 2018

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR 273 TAHUN 1993 PETUNJUK PELAKSANAAN CARA MENILAI KECAKAPAN PRAMUKA

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR 273 TAHUN 1993 PETUNJUK PELAKSANAAN CARA MENILAI KECAKAPAN PRAMUKA


LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN
KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR 273 TAHUN 1993
PETUNJUK PELAKSANAAN CARA MENILAI
KECAKAPAN PRAMUKA



Pt.   1. Umum
a. Gerakan Pramuka menggunakan Sistem Tanda Kecakapan Pramuka sebagai alat untuk mencapai tujuan Gerakan Pramuka, yang meliputi :
1) Syarat Kecakapan Umum
2) Syarat Kecakapan Khusus
3) Syarat Pramuka Garuda
b. SKU, SKK, dan SPG merupakan alat/materi kegiatan pokok dalam proses pendidikan kepramukaan, yang melibatkan peserta didik dan Pembina Pramuka, untuk meningkatkan mutu pengetahuan, keterampilan dan sikap laku peserta didik menuju tercapainya tujuan Gerakan Pramuka.
c. Untuk pelaksanaan penilaian kecakapan Pramuka di lapangan, maka para Pembina Pramuka perlu memiliki, mempelajari dan memahami benar petunjuk penyelenggaraan yang telah ditetapkan dengan Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, antara lain sebagai berikut :
1) Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 088/KN/74 tahun 1974 dan Nomor 33 tahun 1987 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Syarat Kecakapan Umum.
2) Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 134/KN/76 tahun 1976 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Syarat Kecakapan Khusus.
3) Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 101 tahun 1984 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Pramuka Garuda.
4) Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 178 tahun 1979 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Upacara dalam Gerakan Pramuka.
5) Keputusan Kwarnas lainnya mengenai petunjuk penyelenggaraan hal-hal lain yang terkait.
d. Untuk pelaksanaan penilaian kecakapan Pramuka secara obyektif, para Pembina Pramuka perlu mempelajari dan memahami benar hal-hal yang tampak secara umum, misalnya :
1) Pramuka Siaga masih suka berkhayal, menykai ceritera fantastis dan lucu.
2) Pramuka Penggalang semangatnya menggebu, daya nalarnya mulai berkembang, masih suka pada hal yang lucu.
3) Pramuka Penegak berfikir kritis, logis, merasa mampu mandiri, emosional.
4) Pramuka Pandega ingin berbuat sesuatu dan sedang mencari jatidirinya.
e. Pelaksanaan pencapaian SKU, SKK, dan SPG di lapangan harus dilakukan secara kreatif dan rekreatif, sehingga menggairahkan peserta didik untuk menempuh ujian, serta menyelesaikan materi kegiatan Pramuka, dengan menghindari suasana formal, kaku, dan statis.
 f. Tujuan diterbitkannya petunjuk pelaksanaan ini adalah untuk memberi kemudahan kepada para Pembina Pramuka dalam menilai SKU, SKK, dan SPG bagi peserta didiknya, sebagai salah satu upaya peningkatan mutu anggota Gerakan Pramuka.
g. Maksud diterbitkannya petunjuk pelaksanaan ini adalah agar :
1) proses penyelesaian materi SKU, SKK, dan SPG dan proses penilaiannya lebih disenangi dan diminati peserta didik.
2) para Pembina Pramuka mampu memberi dorongan dalam menilai perserta didiknya, dengan menggunakan berbagai variasi dan sekaligus membina perkembangan watak dan sikap laku peserta didik.
3) para peserta didik dan orang dewasa terdorong untuk berbuat lebih baik dan peka terhadap kepentingan peserta didik dan masyarakat lingkungannya.

Pt.   2. Ruang lingkup dan tata urut.
Petunjuk pelaksanaan ini meliputi hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan menilai SKU, SKK, dan SPG, yang disusun dengan tata urut sebagai berikut :
a. Umum
b. Pengertian, tujuan, sasaran dan fungsi
c. Proses penilaian
d. Upacara
e. Penutup

Pt.   3. Pengertian
a. Yang dimaksud dengan kecakapan dalam petunjuk penyelenggaraan ini adalah kemampuan seorang Pramuka yang berlandaskan pada pengetahuan, keterampilan, dan sikap laku yang dimilikinya.
b. Syarat Kecakapan Umu (SKU) adalah syarat kecakapan minimum, yang harus dicapai secara umum oleh semua Pramuka, sesuai dengan perkembangan jasmani dan rohaninya.
c. Syarat Kecakapan Khusus (SKK) adalah syarat kecakapan minimum, yang harus dicapai secara khusus oleh seorang Pramuka, sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan pribadi/individunya.
d. Syarat Pramuka Garuda (SPG) adalah syarat kecakapan tertinggi, yang harus dicapai oleh seorang Pramuka, sesuai dengan golongan usianya.
d. Menguji kecakapan dalam Gerakan Pramuka adalah menilai pengetahuan, keterampilan dan sikap seorang Pramuka, diukur dengan SKU, SKK dan, SPG, sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan bahwa yang bersangkutan telah memenuhi syarat minimal yang telah ditentukan, sesuai dengan keadaan dan kemampuan peserta didik.

Pt.   4. Tujuan
Tujuan penilaian kecakapan dalam Gerakan Pramuka adalah untuk mengukur keberhasilan usaha mencapai tujuan Gerakan Pramuka dengan :
a. mendorong peserta didik menambah pengetahuan, keterampilan dan sikapnya.
b. mengembangkan hal-hal yang bersifat positif yang ada pada diri peserta didik.
c. menanamkan keyakinan peserta didik akan kemampuannya dan kesadaran untuk membaktikan diri bagi kepentingan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, serta Tuhan Yang Maha Esa.

Pt.   5. Sasaran
a. Sasaran penilaian kecakapan peserta didik adalah :
1) meyakini akan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliknya.
2) merasa mantap atas kemampuan mental dan fisiknya.
3) memiliki kepercayaan diri yang lebih besar.
4) memiliki rasa tanggungjawab dan kewajiban untuk berbakti.
b. Sasaran penilaian kecakapan peserta didik bagi para Pembina Pramuka adalah :
1) mengetahui keberhasilan proses pendidikan yang dilakukannya.
2) mengetahui usaha dan prestasi yang dicapai peserta didik.
3) mengetahui kemampuan para Pembina Pramuka dalam melaksanakan tugasnya.

Pt.   6. Fungsi
Para Pembina Pramuka perlu menyadari bahwa penilaian kecakapan dalam Gerakan Pramuka berfungsi sebagai alat pendidikan untuk mencapai tujuan Gerakan Pramuka, dan bukanlah merupakan tujuan pendidikan.



Pt.   7. Pendekatan
a. Karena penilaian kecakapan Pramuaka merupakan alat pendidikan, maka pada prinsipnya menilai kecakapan Pramuka adalah secara perorangan.
b. Untuk beberapa mata kegiatan, memang ada yang perlu dilaksanakan secara berkelompok, namun demikian penilaiannya tetap secara perorangan. Hal ini misalnya : kegiatan upacara, memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya, memasak, PPPK, dan sebagainya.
c. Pelaksanaan penilaian kecakapan Pramuka perlu memperhatikan perbedaan usia, perkembangan jasmani dan rohani peserta didik. Cara menilai Pramuka Siaga berbeda dengan menilai Pramuka Penggalang, penegak dan Pandega.
d. Penilaian kecakapan Pramuka dilaksanakan :
1) dalam bentuk praktek, artinya bukan hanya teori, secara tertulis.
2) secara praktis, artinya sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.
3) dengan cara penyajian kegiatan yang menarik dan menyenangkan.

Pt.   8. Waktu
a. Pelaksanaan penilaian kecakapan dapat diatur oleh Pembina Pramuka yang bersangkutan, misalnya :
1) dijadwalkan dalam setiap hari latihan berkala.
2) dijadwalkan dalam acara wisata, perjalanan di kapal laut, mengisi waktu luang dalam perjalanan jauh, dan lain-lain.
3) pada waktu melaksanakan kegiatan, baik kegiatan dalam latihan berkala di satuannya, maupun kegiatan kemasyarakatan, kepemudaan, kemahasiswaan dan sejenisnya yang melibatkan peserta didik.
b. Penilaian kecakapan juga dapat dilaksanakan pada waktu yang disepakati bersama oleh peserta didik dengan Pembinanya, meliputi pula tempat dan mata kegiatannya.
Pt.   9. Proses
a. Proses penilaian kecakapan dapat dilaksanakan :
1) secara langsung yaitu peserta didik secara sadar merasakan proses prnilaian SKU, SKK, dan SPG, sesuai dengan kesepakatan bersama antara peserta didik dengan Pembinanya.
2) secara tidak langsung, yaitu peserta didik mengikuti kegiatan di dalam latihan berkala atau mengikuti kegiatan lain dan tidak disadarinya bahwa dalam kegiatan itu mereka dinilai kecakapannya. Hal ini perlu dilakukan khususnya untuk peserta didik yang segan atau takut dinilai.
b. Proses penilaian kecakapan juga dilakukan dengan :
1) menitikbertakan pada usaha dan upaya secara bersungguh-sungguh dari peserta didik, untuk mencapai hasil yang diharapkan (nilai formil).
2) kemudian menilai materi atau hasil usaha yang dapat dicapai oleh peserta didik (nilai materiel). Pada pelaksanaan menilai kecakapan peserta didik perlu digunakan prinsip : untuk mencapai hasil yang baik perlu adanya usaha secara bersungguh-sungguh dengan sekuat tenaga dan upaya. Itulah sebabnya nilai formal diutamakan daripada nilai materiel, kecuali untuk penilaian Syarat Kecakapan Khusus, penilaian materi atau hasil usaha juga ikut menentukan keberhasilannya.

SELENGKAPNYA SILAHKAN DOWNLOAD DISINI
KLIK DISINI

PP SISMINTIR NO 162.A TAHUN 2011

PP SISMINTIR NO 162.A TAHUN 2011

LAMPIRAN I
KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR 162.A TAHUN 2011
TENTANG
PETUNJUK PENYELENGGARAAN
SISTEM ADMINISTRASI KWARTIR GERAKAN PRAMUKA
BAB I
PENDAHULUAN
1. Umum
a. Sebagai suatu organisasi yang besar, Gerakan Pramuka harus memiliki tata cara kerja yang
tertib dan teratur, sebagai landasan dan pedoman untuk menentukan kebijakan, perencanaan,
pelaksanaan, dan pengendalian dalam menentukan tindakan-tindakan selanjutnya.
b. Dalam mencapai tujuan Gerakan Pramuka perlu ditata dan dipelihara tugas pokok dan
fungsi-fungsi dalam menentukan batas-batas ruang lingkup tugas dan wewenang.
c. Guna menunjang pelaksanaan tugas pokok kwartir Gerakan Pramuka, perlu adanya
suatu pedoman yang mengatur Sistem Administrasi Kwartir yang dituangkan dalam
petunjuk penyelenggaraan.
2. Dasar
a. Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka.
b. Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka.
c. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.
3. Maksud dan tujuan
a. Maksud Petunjuk Penyelenggaraan Sistem Administrasi Kwartir ini untuk memberikan
pedoman kepada pelaksana administrasi kwartir gerakan pramuka, agar dalam menunaikan
tugas masing-masing dapat dicapai adanya dasar pengertian dan tata cara penyelenggaraan
yang sama.
b. Tujuannya adalah untuk mengatur, menertibkan, dan memperlancar penyelenggaraan
administrasi kwartir di lingkungan Gerakan Pramuka dan memberikan dasar-dasar yang
sama sebagai pedoman penyelenggaraan administrasi kwartir, agar tercipta keseragaman
dalam tata cara pengendalian dan terlaksananya pembinaan administrasi yang baik, tertib,
teratur, dan terarah di lingkungan Gerakan Pramuka.
4. Fungsi
a. Sebagai pedoman pokok yang harus dilaksanakan dan diterapkan di lingkungan organisasi
Gerakan Pramuka.
b. Untuk keseragaman tata cara pelaksanaan penyelenggaraan administrasi.
Petunjuk Penyelenggaraan Sistem Administrasi Kwartir Gerakan Pramuka
5. Sistematika
Sistematika petunjuk penyelenggaraan ini disusun sebagai berikut:
a. Pendahuluan
b. Pedoman Umum Tulisan Dinas
c. Tulisan Dinas yang Bersifat Mengatur
d. Tulisan Dinas yang Bersifat Naskah/Surat
e. Surat-menyurat, Pembukuan Surat Masuk/Keluar, dan Klasifikasi
f. Sarana Surat Menyurat
g. Perubahan, Pencabutan, Pembatalan, Ralat, dan Bentuk Tulisan Dinas
h. Penyampaian Surat-Surat/Berita
i . Pengurusan Arsip
j. Pendataan dan Potensi
k. Penutup
6. Pengertian
a. Administrasi dalam arti luas adalah keseluruhan (proses) yang membuat sumber-sumber
personil dan materiil sesuai yang tersedia dan efektif bagi tercapainya tujuan bersama.
Proses ini meliputi perencanaan, organisasi, koordinasi, pengawasan, penyelenggaraan dan
pelayanan dari segala sesuatu mengenai urusan Gerakan Pramuka yang langsung
berhubungan dengan pendidikan kepramukaan.
b. Administrasi dalam arti terbatas (sempit) didefinisikan sebagai penyusunan dan pencatatan
data dan informasi secara sistematis baik internal maupun eksternal dengan maksud
menyediakan keterangan serta memudahkan untuk memperoleh kembali baik sebagian
maupun menyeluruh. Pengertian administrasi secara sempit ini lebih dikenal dengan istilah
tata usaha dalam kwartir Gerakan Pramuka.
c. Administrasi kwartir adalah semua perencanaan, kegiatan, dan tata cara tulis menulis dalam
lingkungan kwartir Gerakan Pramuka yang dilakukan secara teratur dan terarah untuk
mencapai suatu tujuan dan tugas pokok kwartir Gerakan Pramuka.
d. Petunjuk Penyelenggaraan Sistem Administrasi Kwartir yang disingkat Jukran Sismintir
adalah suatu ketentuan guna mengatur dan menertibkan sistem administrasi di kwartir
Gerakan Pramuka.
Petunjuk Penyelenggaraan Sistem Administrasi Kwartir Gerakan Pramuka
BAB II
PEDOMAN UMUM TULISAN DINAS
Administrasi Kwartir Gerakan Pramuka dibagi dalam dua macam yaitu tulisan dinas yang bersifat
mengatur dan tulisan dinas yang bersifat naskah/surat.
1. Tulisan dinas yang bersifat mengatur terdiri dari:
a. Keputusan.
b. Petunjuk Penyelenggaraan.
c. Surat Keputusan.
d. Petunjuk Pelaksanaan.
e. Petunjuk Teknis.
f. Surat Perintah Kerja.
g. Surat Tugas.
h. Kesepakatan Bersama.
i. Nota Kesepahaman/Memorandum of Understanding (MoU)
j. Perjanjian Kerjasama.
2. Tulisan dinas yang bersifat naskah/surat terdiri dari:
a. Surat Edaran
b. Surat
c. Surat Keterangan
d. Surat Izin
e. Surat Perjalanan Dinas
f. Surat Kuasa
g. Surat Pengantar
h. Undangan
i. Nota Dinas
j. Surat Panggilan
k. Surat Rekomendasi
l. Lembar Disposisi
m. Telaahan Staf
n. Pengumuman
o. Laporan
p. Surat Telegram
q. Berita Acara
r. Notulen
s. Daftar Hadir
t. Piagam Penghargaan
u. Sertifikat/Ijazah
Petunjuk Penyelenggaraan Sistem Administrasi Kwartir Gerakan Pramuka


UNTUK SELENGKAPNYA SILAHKAN KLIK DIBAWAH 

Tuesday, January 23, 2018

PETUNJUK PELAKSANAAN GUDEP PERGURUAN TINGGI

PETUNJUK PELAKSANAAN GUDEP PERGURUAN TINGGI

KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
KEPUTUSAN
KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR: 180 A TAHUN 2011
TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN
GUGUS DEPAN GERAKAN PRAMUKA YANG BERPANGKALAN
DI KAMPUS PERGURUAN TINGGI
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,
Menimbang : a. bahwa pembinaan dan pengembangan gugus depan Gerakan Pramuka yang berpangkalan di Kampus Perguruan Tinggi telah diatur dalam petunjuk pelaksanaan yang ditetapkan dengan Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka Nomor 054 Tahun 1982 juncto Nomor 086 Tahun 1987;
b.
bahwa petunjuk pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada huruf a di atas perlu disempurnakan sesuai dengan perkembangan Gerakan Pramuka saat ini;
c.
bahwa sehubungan dengan itu perlu ditetapkan dengan Surat Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka.
Mengingat : 1. Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka.
2.
Keputusan Presiden RI Nomor 24 Tahun 2009 tentang Pengesahan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka.
3.
Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka Nomor 203 Tahun 2009 tentang Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka iii
4.
Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka Nomor 231 Tahun 2007, tentang Petunjuk Penyelenggaraan Gugus Depan Gerakan Pramuka.
5.
Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka Nomor 220 Tahun 2007 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Pokok-pokok Organisasi Gerakan Pramuka.
6.
Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka Nomor 225 Tahun 2007 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Majelis Pembimbing Gerakan Pramuka.
7.
Keputusan Bersama Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen PDK dan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 047/DJ/KEP/1981 dan Nomor 021 TAHUN 1981.
8.
Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 054 Tahun 1982 juncto Nomor 086
Tahun 1987 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan dan Pengembangan Gugus Depan yang Berpangkalan di Kampus Perguruan Tinggi.
Memperhatikan : Usul dan saran Andalan Nasional Gerakan Pramuka
MEMUTUSKAN:
Menetapkan :
Pertama : Mencabut Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 054 Tahun 1982 dan Nomor 086 Tahun 1987 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan dan Pengembangan Gugus Depan yang Berpangkalan di Kampus Perguruan Tinggi.
Kedua : Petunjuk Pelaksanaan Gugus Depan Gerakan Pramuka yang berpangkalan di Kampus Perguruan Tinggi sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.
Ketiga : Petunjuk Pelaksanaan ini digunakan sebagai pedoman bagi kwartir, gugusdepan, dan lembaga perguruan tinggi dalam melaksanakan Pembinaan dan Pengembangan Gugus Depan Gerakan Pramuka yang Berpangkalan di Kampus Perguruan Tinggi.
Keempat : Keputusan ini mulai berlaku sejak ditetapkan.
iv Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
Apabila ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan pembetulan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di : Jakarta.
Pada tanggal : 18 Oktober 2011
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
Ketua,
Prof. DR. Dr. H. Azrul Azwar, MPH
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka 1
LAMPIRAN I
KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR: 180 A TAHUN 2011
PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN
GUIGUS DEPAN YANG BERPANGKALAN DI KAMPUS
PERGURUAN TINGGI
BAB I
PENDAHULUAN
1. Umum
a. Gerakan Pramuka adalah Organisasi Kepanduan Nasional Indonesia sebagai lembaga pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepramukaan. Gerakan Pramuka berfungsi sebagai organisasi pendidikan nonformal di luar sekolah dan di luar keluarga serta sebagai wadah pembinaan dan pengembangan peserta didik berlandasan Sistem Among dengan menerapkan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan.
b. Gerakan Pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup.
c. Untuk mencapai tujuan Gerakan Pramuka diperlukan dukungan dan partisipasi aktif dari seluruh komponen masyarakat, baik dari kalangan internal maupun eksternal Gerakan Pramuka.
d. Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan dapat membentuk gugus depan yang berbasis satuan pendidikan, sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 21 Undang-Undang RI Nomor 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, dijelaskan bahwa gugus depan berbasis satuan pendidikan dan gugus depan berbasis komunitas.
2 Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
e. Dalam usaha melaksanakan Keputusan Bersama antara Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi dengan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 047/DJ/KEP/1981 dan Nomor 021 TAHUN 1981, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka telah menetapkan Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan dan Pengembangan gugus depan Gerakan Pramuka yang berpangkalan di kampus perguruan tinggi.
f. Maksud Petunjuk Pelaksanaan ini untuk memberi pedoman bagi lembaga perguruan tinggi dalam rangka pelaksanaan pembinaan dan pengembangan serta mengatur tata kerja dan tata laksana gugus depan Gerakan Pramuka yang berpangkalan di kampus perguruan tinggi.
2. Dasar
Petunjuk pelaksanaan ini disusun atas dasar:
a. Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka.
b. Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka.
c. Keputusan Presiden RI Nomor 24 Tahun 2009 tentang Pengesahan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka.
d. Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka Nomor 203 Tahun
2009 tentang Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.
e. Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka Nomor 231 Tahun
2007 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Gugus Depan Gerakan Pramuka.
f. Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka Nomor 225 Tahun 2007 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Majelis Pembimbing Gerakan Pramuka.
g. Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka Nomor 054 Tahun 1982 juncto Nomor 086 Tahun 1987 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan dan Pengembangan Gugus Depan yang Berpangkalan di Kampus Perguruan Tinggi.
h. Keputusan Bersama Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen P dan K dan Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Nomor 047/DJ/KEP/1981 dan Nomor 021 Tahun 1981.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka 3
3. Sistematika
Petunjuk pelaksanaan ini meliputi:
a. Pendahuluan.
b. Maksud, Tujuan, dan Sasaran.
c. Organisasi.
d. Majelis Pembimbing.
e. Pembentukan Gugus Depan.
f. Pembinaan dan Pengembangan Gugus Depan.
g. Administrasi.
h. Kegiatan.
i. Penutup.
4. Pengertian
a. Gugus depan adalah satuan pendidikan dan satuan organisasi terdepan penyelenggara pendidikan kepramukaan.
b. Gugus depan yang dimaksud adalah gugus depan tidak lengkap dan gugus depan lengkap.
c. Gugus depan tidak lengkap adalah gugus depan yang hanya memiliki satu atau dua golongan peserta didik saja, misalnya hanya memiliki Ambalan Penegak dan atau Racana Pandega.
d. Gugus depan lengkap adalah gugus depan yang memiliki semua golongan peserta didik terdiri atas Perindukan Siaga, Pasukan Penggalang, Ambalan Penegak dan Racana Pandega.
e. Pembina adalah tenaga pendidikan Gerakan Pramuka yang bertugas melatih peserta didik di gugus depan.
f. Tenaga pendidik adalah anggota dewasa yang terdiri dari pembina dan pembantu pembina, pelatih pembina, pamong dan instruktur saka.
g. Peserta didik adalah anggota muda terdiri dari Pramuka Siaga, Pramuka Penggalang, Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega.
h. Majelis Pembimbing disingkat Mabi adalah dewan yang memberikan bimbingan pada satuan organisasi Gerakan Pramuka.
4 Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
i. Pembinaan adalah usaha sadar yang dilaksanakan oleh pembina pramuka yang merupakan tindakan terencana, terarah dan berkesinambungan sebagai upaya pendidikan yang dilakukan secara efesien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
j. Pengembangan adalah upaya terencana untuk meningkatkan kecerdasan spiritual, emosional, sosial, intelektual dan fisik yang dikemas dalam kegiatan terpadu dalam Gerakan Pramuka untuk kelangsungan gugus depan di perguruan tinggi.
BAB II
MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN
1. Maksud
Maksud diadakannya gugus depan Gerakan Pramuka di perguruan tinggi adalah:
a. Menghimpun potensi civitas akademika dalam kampus dan komunitas di sekelilingnya, yang berminat menjadi anggota Gerakan Pramuka agar dapat berperan serta dalam pendidikan kepramukaan sebagai wahana pembentukan kader Gerakan Pramuka.
b. Memberi kesempatan kepada mahasiswa dan kaum muda di sekelilingnya untuk melakukan kegiatan positif, konstruktif, dan edukatif serta memberikan pengetahuan dan pengalaman praktis melalui kegiatan pendidikan kepramukaan.
2. Tujuan
Tujuan diadakannya gugus depan Gerakan Pramuka yang berpangkalan di perguruan tinggi adalah untuk membentuk dan mengembangkan karakter bangsa dengan meningkatkan peranan perguruan tinggi dalam melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat melalui kegiatan pendidikan kepramukaan.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka 5
3. Sasaran
a. Mampu menyelenggarakan kegiatan pendidikan kepramukaan dalam rangka melaksanakan program yang berdasarkan Tridarma Perguruan Tinggi dan tujuan Gerakan Pramuka, terutama kegiatan pembentukan karakter dan bakti masyarakat.
b. Mampu meningkatkan kualitas anggota muda pada gugus depan di perguruan tinggi.
c. Tersusunnya program kegiatan pada gugus depan di perguruan tinggi secara berkelanjutan dan berkesinambungan.
BAB III
ORGANISASI
1. Pada dasarnya gugus depan Gerakan Pramuka mengikuti semua ketentuan dalam Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 231 Tahun 2007 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Gugus Depan.
2. Gugus depan Gerakan Pramuka berpangkalan di kampus perguruan tinggi dihimpun dan dikoordinasikan oleh kwartir cabang.
3. Mengingat situasi dan kondisi gugus depan Gerakan Pramuka perguruan tinggi, pada taraf permulaan dapat merupakan gugus depan tidak lengkap.
4. Gugus depan yang berpangkalan di perguruan tinggi hendaknya dikembangkan menjadi gugus depan lengkap.
5. Gugus depan di kampus perguruan tinggi terdiri dari satu gugus depan putra dan satu gugus depan putri, bila anggotanya lebih dari ketentuan maka di bentuk satuan baru (misalnya racana pandega yang anggotanya lebih dari 32 orang dapat membentuk racana baru).
6. Gugus depan putra dipimpin oleh seorang pembina pramuka putra dan gugus depan putri dipimpin oleh seorang pembina putri.
6 Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
BAB IV
MAJELIS PEMBIMBING
1. Majelis Pembimbing Gugus Depan disingkat Mabigus merupakan suatu badan dalam Gerakan Pramuka yang memiliki tugas pokok memberi bimbingan dan bantuan moril, organisatoris, material dan finansial untuk penyelenggaraan pendidikan kepramukaan di gugus depan. Kegiatan Mabigus diatur dalam Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 225 tahun 2007 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Majelis Pembimbing Gerakan Pramuka.
2. Susunan Majelis Pembimbing
a. Pada tingkat universitas secara ex-officio rektor sebagai Ketua Mabigus, pada sekolah tinggi dijabat oleh ketua, pada akademi dijabat oleh direktur setempat.
b. Jumlah Wakil Ketua Mabigus disesuaikan dengan kepentingannya.
c. Anggota Mabigus ditentukan jumlahnya sesuai dengan kepentingan, terdiri dari unsur:
1) Jajaran pimpinan perguruan tinggi
2) Dewan penyantun
3) Tenaga pengajar
4) Pejabat bidang kemahasiswaan
5) Tenaga administrasi kemahasiswaan
6) Tokoh masyarakat di lingkungannya
d. Ketua Harian Mabigus ditunjuk diantara para wakil ketua.
e. Sekretaris Mabigus ditunjuk diantara anggota majelis untuk membantu kelancaran tugas.
f. Ketua gugus depan secara ex-officio menjadi anggota Mabigus.
3. Pelantikan Ketua dan Anggota Mabigus dilakukan oleh ketua kwarcab.
4. Masa bakti kepengurusan Mabigus sama dengan masa bakti kepengurusan gugus depan yaitu 3 (tiga) tahun.
5. Mabi menyelenggarakan rapat sekurang-kurangnya satu kali dalam satu tahun.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka 7
6. Hubungan majelis pembimbing dengan badan lain
a. Mabigus melalui rektor/ ketua/ direktur perguruan tinggi yang bersangkutan, merupakan penghubung antara gugus depan yang berpangkalan di kampus perguruan tinggi dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
b. Bagan jalur hubungan tersebut dapat dilihat pada lampiran II.
BAB V
PEMBENTUKAN GUGUS DEPAN
1. Pembentukan Gugus Depan
a. Gugus depan (gudep) dapat dibentuk atas prakarsa masyarakat setempat, pimpinan perguruan tinggi, tenaga pengajar, orang tua peserta didik atau mahasiswa, melalui pertemuan/musyawarah dengan para orang tua peserta didik dan tokoh masyarakat.
b. Dalam pertemuan tersebut diundang unsur:
1) Kwartir ranting dan kwartir cabang.
2) Pimpinan organisasi mahasiswa, rektor/ketua/direktur dan tenaga pengajar.
3) Tokoh masyarakat dan orang tua peserta didik.
c. Hasil pertemuan/musyawarah yang sudah dilaksanakan dapat memilih Ketua Gudep dan anggota Mabigus dari unsur tokoh masyarakat, pimpinan perguruan tinggi, lembaga/instansi pemerintah di sekitar pangkalan gudep.
d. Kepengurusan Mabigus disusun oleh Ketua Mabigus bersama-sama dengan Ketua Gudep, dengan susunan sebagai berikut:
1) Seorang Ketua.
2) Beberapa Wakil Ketua.
3) Seorang Ketua Harian.
4) Seorang Sekretaris.
5) Beberapa orang anggota.
Pengurus diupayakan putra dan putri dalam jumlah yang seimbang. Ketua Gudep secara ex-officio menjadi anggota Mabigus.
8 Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
e. Ketua Gudep menyusun Pembina satuan di gudepnya.
f. Gudep melakukan pendaftaran calon anggota sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
g. Gudep perguruan tinggi anggotanya terbuka untuk para mahasiswa, keluarga tenaga pengajar, keluarga tenaga administrasi, dan anak-anak serta pemuda-pemuda yang ada di sekitar kampus perguruan tinggi.
2. Pengesahan
a. Setelah terbentuknya struktur gugus depan, program kegiatan gugus depan, personalia pembina dan peserta didik dalam waktu tiga atau empat bulan ketua mabigus melaporkan kepada kwartir cabang tembusan kwartir ranting untuk mendapatkan pengesahan.
b. Pengesahan gugus depan dilakukan oleh kwartir cabang setempat, dalam suatu upacara dapat disaksikan oleh pejabat dikti, dikbud, kwartir cabang, kwartir ranting, tokoh masyarakat, pejabat perguruan tinggi setempat, gugus depan yang berdekatan, anggota majelis pembimbing, pembina gugus depan, pembina pramuka dan orang tua serta undangan lainnya yang dianggap perlu.
BAB VI
PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN GUGUS DEPAN
1. Pembinaan
a. Pembinaan gugus depan dilakukan oleh majelis pembimbing dan pengurus kwarcab.
b. Pembinaan di dalam gugus depan dilakukan secara terus menerus oleh anggota dewasa terhadap peserta didik, dengan menggunakan sistem among, prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, perkembangan dan kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.
c. Pembinaan pramuka penegak dan pandega sebagai inti keanggotaan di gugus depan yang berpangkalan di kampus perguruan tinggi merupakan proses pendidikan dan pembinaan
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka 9
kepribadian, watak, pengetahuan, keterampilan, ketangkasan, kesehatan, kesegaran jasmani, kepemimpinan sehingga dapat hidup mandiri, bertanggungjawab, peduli, dan taat asas.
d. Pola pembinaan pramuka penegak dan pandega meliputi bina diri, bina satuan, dan bina masyarakat melalui proses pengumpulan data, perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan.
e. Maksud pola pembinaan pramuka penegak dan pandega:
1) merupakan pedoman pimpinan untuk menentukan kebijakan umum dalam usaha pembinaan dan pengembangan pramuka penegak dan pandega;
2) merupakan pedoman berfikir, bersikap dan bertindak bagi
pramuka penegak dan pandega.
f. Pembinaan ini dapat dikelompokkan menjadi:
1) kegiatan bina diri: pembinaan pribadi, baik rohani, jasmani maupun keterampilan;
2) kegiatan bina satuan: pembinaan kepemimpinan dan keterampilan pengelolaan satuan dalam Gerakan Pramuka, serta darma baktinya kepada masyarakat;
3) kegiatan bina masyarakat: pembinaan kepemimpinan dan keterampilan pembangunan masyarakat, serta darma baktinya kepada pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara.
g. Pembinaan satuan dalam Gerakan Pramuka disusun menurut sistem beregu atau kelompok kecil sebagai upaya untuk mempermudah dan memperlancar interaksi kegiatan pendidikan di alam terbuka.
h. Hubungan antara pembina dengan peserta didik sebagaimana hubungan sebagai kakak dan adik.
2. Pengembangan
a. Gugus depan yang berpangkalan di kampus perguruan tinggi perlu dikembangkan secara terus menerus dan berkelanjutan, baik mengenai jumlah anggota maupun mutunya.
b. Pengembangan gugus depan tersebut supaya direncanakan secara bertahap, sesuai dengan kemampuan dan kepentingan perguruan tinggi serta masyarakat setempat.
10 Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
c. Pengembangan kecerdasan diarahkan pada lima ranah pengembangan (area development) yang meliputi:
1) Pengembangan spiritual
2) Pengembangan emosional
3) Pengembangan sosial
4) Pengembangan intelektual
5) Pengembangan fisik
d. Dalam usaha mengembangkan gugus depan tersebut perlu diikutsertakan unsur-unsur:
1) Majelis Pembimbing
2) Pembina Pramuka
3) Peserta didik terutama pramuka penegak dan pandega
4) Dewan Kerja Ranting dan Dewan Kerja Cabang
5) Para cendikiawan dan tokoh masyarakat setempat
e. Untuk mengembangkan jumlah anggota supaya dibuka kesempatan seluas-luasnya untuk menerima anak-anak dan pemuda yang ada di sekitar kampus untuk menjadi anggota gugus depan Gerakan Pramuka.
f. Usaha untuk meningkatkan mutu anggota gugus depan tersebut, dilakukan antara lain dengan:
1) Mengikutsertakan para pembina pramuka dalam kursus pembina pramuka mahir.
2) Mengikutsertakan para pramuka penegak dan pandega dalam Kursus Instruktur Muda dan Kursus Pembina Pramuka Mahir yang diselenggarakan oleh kwartir cabang.
3) Melengkapi prasarana, sarana dan alat pendidikan yang memadai, termasuk sanggar bakti gugus depan.
4) Membuat program pendidikan yang terpadu, sesuai dengan kepentingan pembangunan masyarakat setempat, dalam upaya menjadikan kampus perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan masyarakat.
5) Secara aktif mengikuti kegiatan kepramukaan di tingkat ranting, cabang, daerah, Nasional dan internasional sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada.
6) Mengikutsertakan pramuka penegak dan pandega dalam kegiatan bakti masyarakat, kepedulian sosial sesuai dengan program perguruan tinggi dan program pendidikan tinggi.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka 11
BAB VII
ADMINISTRASI
1. Keanggotaan
a. Gugus depan yang berpangkalan di kampus perguruan tinggi dibina oleh kwartir cabang setempat.
b. Penerimaan anggota Gerakan Pramuka dalam gugus depan dilaksanakan oleh pembina gugus depan dan dicatat dalam buku induk anggota gugus depan yang bersangkutan.
c. Bagi calon pramuka siaga dan pramuka penggalang dilengkapi surat pernyataan dari orang tua/walinya yang menyatakan bahwa mereka tidak berkeberatan anaknya menjadi anggota Gerakan Pramuka di gugus depan tersebut.
d. Bagi calon pramuka penegak dan pramuka pandega supaya dilengkapi dengan surat pernyataan dari yang bersangkutan yang menyatakan bahwa mereka sanggup menjadi anggota Gerakan Pramuka secara sukarela tanpa paksaan melainkan atas dasar kemauan dan minatnya sendiri.
e. Jika seorang pramuka pindah ke lain gugus depan, pembina gugus depan yang bersangkutan membuat surat keterangan pindah tentang diri pramuka tersebut dan dilaporkan kepada kwartir cabang dan ketua mabigus yang bersangkutan.
2. Buku Administrasi
Administrasi gugus depan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Petunjuk Penyelenggaraan Gugus Depan Gerakan Pramuka yang tertera pada lampiran Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 231 Tahun 2007.
3. Laporan Kerja
a. Setiap tahun dibuat laporan berkala tentang kegiatan pendidikan kepramukaan di gugus depan tersebut disampaikan kepada majelis pembimbing gugus depan dengan tembusan kepada kwartir daerah, kwartir cabang dan kwartir ranting serta yang bersangkutan.
b. Setiap gugus depan harus mendaftar ulang dengan menyerahkan laporan kepada kwartir cabang melalui kwartir ranting, tembusan kepada mabigus setempat.
12 Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
4. Pendanaan Gugus Depan
Pendanaan gugus depan diperoleh dari:
a. Iuran anggota.
b. Bantuan Pemerintah/ Pemerintah Daerah melalui perguruan tinggi yang bersangkutan.
c. Bantuan dari masyarakat yang tidak mengikat.
d. Usaha-usaha lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, Anggaran Dasar, dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.
5. Iuran
Anggota gugus depan, pembina pramuka, pembantu pembina dan anggota mabigus membayar uang iuran bulanan kepada gugus depan, yang jumlahnya ditentukan dalam musyawarah gugus depan.
6. Tanda Anggota
Para pramuka, pembina pramuka dan anggota mabigus menerima tanda anggota Gerakan Pramuka dari kwartir cabang atas usulan gugus depan yang bersangkutan.
BAB VIII
KEGIATAN
1. Program kegiatan gugus depan yang berpangkalan di kampus Perguruan Tinggi disusun secara terpadu dengan kegiatan akademis dan sesuai dengan program kerja kegiatan kwartir yang bersangkutan.
Program kegiatan disusun melalui musyawarah dewan racana pandega, dewan ambalan penegak dan dewan penggalang dengan persetujuan pembinanya dan diusulkan kepada majelis pembimbing.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka 13
2. Jenis Kegiatan:
a. Anggota Dewasa
1) Mengikuti kursus kepramukaan
a) Orentasi bagi dosen dan anggota majelis pembimbing serta karyawan di kampus perguruan tinggi.
b) Kursus Pembina Pramuka Mahir.
c) Kursus Pelatih Pembina Pramuka.
d) Kursus Pembina Profesional.
e) Kursus Pamong Saka.
f) Kursus Instruktur Saka.
g) Kursus Kepemimpinan.
h) Kursus Pendidikan Bela Negara.
2) Memberikan kursus penunjang pengembang kepramukaan
a) Latihan Kepemimpinan.
b) Latihan Pendidikan Bela Negara.
c) Pelatihan Instruktur Kegiatan Alam Terbuka (PIKAT)
d) Pelatihan Scouting Technique (rope course, diving course, rafting, climbing, mountenering) dll.
e) Kursus Koperasi.
f) Kependudukan dan Keluarga Berencana.
g) Kursus Apiari.
h) Perbaikan Mutu Makanan Rakyat.
i) Pelatihan/Workshop Perindustrian.
j) Penyediaan Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman.
k) Penyuluhan yang berkaitan dengan program studi/disiplin ilmu tertentu.
l) Kursus Kewirausahaan.
m) Kursus Ekonomi Mikro.
b. Peserta didik
1) Kegiatan Pramuka Siaga (latihan rutin, pencapaian SKU/SKK/SPG, Pengetahuan Kesakaan, Bazar Siaga, Persari, Pesta Siaga).
2) Kegiatan Pramuka Penggalang (latihan rutin, pencapaian SKU/SKK/SPG, Pengetahuan Kesakaan, Dianpinru, LT, Jambore).
14 Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
3) Kegiatan Pramuka Penegak (latihan rutin, pencapaian SKU/SKK/SPG, Kesakaan, Dianpinsat, Raimuna, Musppanitera, Perkemahan Wirakarya, Perkemahan Pertisaka, LPK, KPDK, Pertisaka dan Penyuluhan).
4) Kegiatan Pramuka Pandega (latihan rutin, pencapaian SKU/SKK/SPG, Kesakaan, Dianpinsat, Raimuna, Musppanitera, Perkemahan Wirakarya, LPK, KPDK, Pertisaka, Kemah Bakti Racana/Kembara, Pengembaraan, Penyuluhan dan Kewirausahaan).
Catatan:
Jenis-jenis kegiatan keterampilan dan kegiatan bakti antara lain:
a. Gerakan tunas
b. Pelestarian lingkungan hidup
n. Penghijauan
o. Pendidikan bela negara
c. Search and rescue (SAR)
d. Sebagai panitia Jambore di udara/ internet (JOTA/JOTI)
e. Napak tilas
f. Seni budaya
g. Olah raga
h. Lomba drum band
i. Petugas haji
j. Pelayanan kesehatan
k. Kemah kerja nyata
l. Ikutserta dalam pencegahan dan penanggulangan musibah/bencana alam dan penyalahgunaan narkoba
m. Pelatihan tanggap bencana
n. Pelatihan pemadam kebakaran
o. Dan lain-lain.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka 15
BAB IX
PENUTUP
1. Petunjuk pelaksanaan ini dibuat guna membantu kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan pembinaan kepramukaan, khususnya yang berpangkalan di kampus perguruan tinggi.
2. Hal-hal yang belum diatur dalam petunjuk pelaksanaan ini akan diatur lebih lanjut oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
3. Apabila dalam petunjuk pelaksanaan ini masih terdapat kekurangan, kekeliruan atau kesalahan akan diadakan penambahan dan pembetulan sebagaimana mestinya.
Jakarta, 18 Oktober 2011
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
Ketua,
Prof. DR. Dr. H. Azrul Azwar, MPH


SELENGKAPNYA UNTUK FORMAT PDF

Scouting Skill

[Teknik Kepramukaan][recentbylabel2]

Galeri Video

[Video Gallery][recentbylabel2]
Notification
Subscribe Chanel Youtube Kami Untuk Info Terbaru.
Subscribe